KU TUNGGU CERITAMU , BU!

Saya teringat tentang kisah beberapa waktu yang lalu,yang telah memotivasi saya untuk selalu berusaha  memberikan yang lebih baik, lebih baik, dan lebih baik lagi kepada anak-anak. Kala itu sepulang sekolah, saya dikejutkan oleh seorang Ibu yang berjalan ke arah saya. Beberapa anak masih asyik berlarian di halaman,ada yang bermain prosotan, ada juga yang sedang duduk di teras bersama  Ibu-Ibu  guru untuk menunggu jemputan. Saya pun masih sibuk menyiapkan anak-anak yang sudah  mulai dijemput orang tuanya,sampai-sampai saya tidak menyadari ada orang tua yang memanggil nama saya,

“Bu Friska !”

Saya pun menoleh ke arah suara tersebut,dan berjalan  mendekati Ibu tadi sambil berkata, “Iya ada apa Bu,ada yang bisa saya bantu? “.

Kemudian Ibu tadi berkata dengan penuh semangat, “Oh tidak Bu,saya hanya ingin bertanya perihal anak saya,apa benar kemarin ada kegiatan mendongeng di sekolah? Anak saya bilang katanya, Umi kalau bercerita seperti Bu Friska tah!Ceritanya bagus kok, aku pengin seperti Ayami bisa ke syurga !. Saya tersenyum  mendengar cerita dari Ibu tadi, dan tak lama lagi, Ibu itu melontarkan pertanyaan kepada saya,

 “Bu tolong saya diajari, bagaimana bercerita seperti Bu Guru di sekolah!”

Subhanalloh,seketika saja saya bingung mau menjawab apa. Saya tidak menduga kalau dongeng yang saya ceritakan kepada anak-anak waktu itu begitu bermakna bagi mereka, hingga mereka menceritakan kembali kepada orang tuanya di rumah. Saya berpikir, bagaimana seandainya dongeng-dongeng atau kisah-kisah teladan mereka bawa hingga dewasa? Sebegitu hebat memori anak-anak hingga Ia dapat terngiang-ngiang pesan yang disampaikan melalui cerita/dongeng.Pastinya saya yakin,jika penanaman akhlaq/moral bisa disampaikan melalui cerita/dongeng, tanpa menggurui, tanpa unsur paksaan maka dampaknya anak-anak akan terus mengingatnya bahkan akan dilakukan dengan penuh suka cita.

Sejak saat itu saya lebih termotivasi untuk dapat menyajikan dongeng/cerita dengan penuh variasi. Dan sungguh, menjadi suatu kepuasan tersendiri apabila dapat melihat senyum, tawa dan antusiasme mereka saat mendengarkan cerita/dongeng saya. Di sekolah kami, setiap hari Jumat ada kegiatan yang diberi judul “Jumat Cerita “, anak-anak akan berkumpul di sebuah ruangan/halaman dan mendengarkan cerita dari Guru. Biasanya, yang mengisi cerita/dongeng akan dilakukan secara bergiliran oleh Ibu Guru. Dan, tibalah giliran saya yang mengisi hari Jumat itu. Bagi saya ini adalah sebuah tantangan, bagaimana menarik simpati anak-anak dengan cerita saya nanti. Saya hanya ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak,saya juga senang melihat mereka menikmati dongeng/cerita saya. Satu hal yang menjadi motivasi bagi saya adalah “Mendongenglah dari hati”,karena jiwa anak-anak masih bersih, mereka akan dapat menilai manakala apa yang kita lakukan benar-benar tulus untuk mereka bukan sekedar karena menggugurkan tugas ataupun karena yang lainnya Pendapat anak-anak sangatlah jujur dan apa adanya, lebih jujur daripada orang dewasa karena mereka akan berpendapat sesuai apa yang mereka lihat  dan bahkan terlihat dari ekspresi mereka. Jika mereka suka, maka mereka akan tertarik bahkan ingin lagi tetapi jika tidak suka maka mereka akan acuh bahkan tidak mempedulikannya.

Setiap orang butuh proses dalam mempelajari sesuatu, demikian halnya sebagai pendidik. Mendongeng adalah sebuah ketrampilan yang membutuhkan latihan agar nantinya dapat mendongeng dengan baik. Awalnya saya belajar melalui meniru,saya terinspirasi dengan teknik mendongeng “Kak Bimo” peraih rekor MURI mendongeng dengan jumlah peserta terbanyak.Saya tertarik dengan dongengnya yang berjudul  “Cerita dari Syurga”. Muncul pertanyaan dalam benak saya saat mengamati dongeng dari kak Bimo, apa yang membuat anak-anak bisa fokus dalam jangka waktu yang relatif lama untuk mendengarkan dongeng?  Kemudian, untuk pertama kalinya saya mulai mencoba mendongeng “Cerita dari Syurga “ dengan  teknik mendongeng yang berbeda. Dunia anak adalah dunia yang penuh keceriaan, penuh fantasi, dan juga imajinasi. Secara naluriah, anak-anak juga aktif dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Oleh sebab itu, saya mencoba untuk masuk ke dalam dunia mereka dalam menyajikan dongeng saya. Mendongeng dari hati adalah memahami karakter anak , kesukaan mereka bukan sebaliknya mereka yang harus memahami kita.

Dongeng singkat yang berjudul “Cerita dari Syurga” saya sajikan dengan sedikit humor,  saya berpikir dengan penyajian cerita/dongeng yang diselingi humor akan menumbuhkan emosi positif pada anak, sehingga menumbuhkan rasa senang dalam hati mereka. Saya membuka dongeng ini dengan lagu dan tepuk (tepuk Masuk Syurga), kemudian saya ajak anak-anak untuk bercakap-cakap tentang keindahan syurga.Saya membawa media berupa terompet kertas yang saya buat dari kertas karton yang digulung. Saya mulai dongeng ini dengan meniup terompet kertas itu dan mengeluarkan suara yang melengking (sangkakala  Malaikat Isrofil), demikian seterusnya hingga di akhir cerita, seorang anak yang bernama Ayami (tokoh utama) menikmati keindahan dan kesenangan karena buah dari amalnya.

Dongeng saya yang kedua, saya beri judul “ Petualangan Lintang”, cerita ini saya buat sendiri, awalnya cerita ini saya buat dengan maksud agar anak-anak senang merawat tanaman dan memelihara lingkungan. Saya menggambarkan sebuah tanaman (pohon jambu) seolah-olah dapat berbicara, dan seorang anak yang bernama Lintang serta anak lain yang diberi nama Badu. Cerita ini mengisahkan tentang perjalanan Lintang yang mencari kayu di hutan dan menemukan ada sebuah bibit pohon (pohon jambu kecil) yang menangis karena kekeringan dan  Ia rawat setiap hari. Akhir dari cerita ini, karena kesabaran Lintang dan ketekunan dalam merawat bibit itu, pohonnya menjadi tumbuh besar dan berbuah lebat (pohon Jambu besar), dan Lintang pun bersahabat dengan Pohon Jambu itu dan diizinkan memetik buahnya.

Kedua dongeng tersebut, memiliki kesamaan di akhir cerita yaitu berakhir bahagia. Untuk menumbuhkan emosi positif pada anak usia Dini, saya berharap dalam cerita/dongeng yang disampaikan untuk Anak Usia Dini dapat berakhir dengan kebahagiaan, keceriaan, dan kesuksesan (Happy Ending).

Saya yakin setiap orang pasti menyukai dongeng/cerita tentang sesuatu, tidak hanya anak-anak saja, saya kira orang dewasa pun menyukai dongeng. Masihkah kita ingat dengan dongeng yang begitu populer pada masa kecil kita dulu? Masihkah kita ingat dengan dongeng yang berjudul “Si Kancil Mencuri Ketimun” atau “Si Kancil dan Buaya” dan masih banyak yang lainnya? . Saat itu pasti kita berpikir Si Kancil cerdik sekali dalam mencuri ketimun dan alangkah malangnya nasib Pak Tani yang dibohongi oleh Kancil.

Tentunya kita tidak ingin anak-anak kelak seperti kancil yang suka mencuri ataupun seperti Pak Tani yang malang. Sebenarnya masih banyak inspirasi yang bisa kita ceritakan kepada anak-anak tentunya dengan pembelajaran yang bisa dijadikan teladan dan lebih bermanfaat. Bukankah masih banyak kisah yang bisa diceritakan yang bersumber dari Al Quran?

Anak-anak  belajar dari apa yang mereka lihat, mereka dengar dan yang mereka lakukan. Banyak sekali kisah – kisah dalam Al Quran yang bagus yang bisa dikenalkan kepada anak-anak. Saya jadi teringat, sewaktu bercerita tentang kisah Nabi Ibrohim dan Nabi Ismail serta tentang ibadah haji ternyata anak-anak menyukai cerita itu, sampai-sampai kejadian dalam cerita itu digambarkan dalam buku gambarnya dan setelah itu mereka bercerita,

“ Bu, ini Ka’bah ! di sini ada sumur zam-zam dan ini sofa dan marwa , yang ini untuk melontar jumroh ,di sini  nabi Ibrohim digoda syaithon Bu!”

Ternyata, tidak sampai disitu saja, saya tertegun waktu melihat seorang anak yang menggambar di atas gambar Ka’bah, bentuk hati dan di dalamnya ditulis nama Allah kemudian disampingnya ditulis,

“Aku Cinta Islam!” “Aku Cinta Allah!”

Subhanalloh , sungguh di luar dugaan saya anak usia 6 tahun menulis kata yang begitu penuh  makna. Beribu-ribu syukur saya panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan saya kesempatan menjadi pendidik, utamanya Anak Usia Dini. Terkadang kita berfikir, orang dewasalah yang selalu mengajari anak-anak, tapi ternyata saya belajar banyak dari anak- anak dan justru merekalah yang mengajari kita. Ya, anak- anak memberi kita pelajaran tentang ketulusan , tentang komitmen dan konsisten  serta banyak hal yang terkadang orang dewasa melupakannya atau bahkan sengaja melupakannya.

Saya berharap semoga, anak-anak akan selalu menantikan cerita-cerita kita. Tiada hentinya hingga mereka akan mengukirnya dan membawa cerita itu sampai dewasa. Keceriaan dan senyum tulus dari anak-anak semoga dapat terus menjadi inspirasi cerita dan dongeng kita, terus dan tiada habisnya.

Karena Sungguh Kehadiranmu Anak-Anakku, menjadikan inspirasi yang tiada henti bagiku! ”

Oleh : Friska Sari Windarini, S.Pd.AUD

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s